Login Member
Username:
Password :
Agenda
18 October 2017
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Statistik

Total Hits : 92445
Pengunjung : 27988
Hari ini : 23
Hits hari ini : 57
Member Online : 1
IP : 54.162.152.232
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

alanrm82    

Sekolah Kristen Widya Wacana

         Surakarta merupakan satu-satunya daerah di Jawa  yang tertutup untuk Pekabaran Injil. Meski demikian ada beberapa penginjil yang berkarya secara diam-diam. Baru pada tahun 1910, Gubernur Jendral Hindia Belanda memberi izin kepada Zending (Badan Pekabaran Injil Belanda) dari Gereja Gereformeerd untuk berkarya di Surakarta. Yang mula-mula dilakukan adalah membangun rumah sakit pada 1915, yang kini menjadi RSUD Dr. Moewardi. Pada tanggal 30 Agustus 1916 berdirilah Gereja yang sekarang menjadi Gereja Kristen Jawa Margoyudan.

            Pada tanggal 30 Agustus 1917 secara diam-diam bagian Pendidikan Zending mulai berkarya di kota Solo. Ditandai dengan pembukaan gedung dengan 8 ruang yang dihadiri 12 anak laki-laki dan 2 anak perempuan dengan orang tua masing-masing. Mereka semua dari etnis –Tionghoa. Inilah Sekolah Kristen berbahasa Belanda untuk anak Tionghoa atau Christelijke Hollandsch Chineesche School (CHCS) yang pertama di Solo dan sekolah pertama yang didirikan Zending di kota Solo.

            Sebelumnya pemerintah Hindia Belanda sudah mendirikan beberapa sekolah Negeri berbahasa Belanda untuk anak Tionghoa, Hollandsch Chineesche School (HCS) maupun pribumi, Hollandsch Inlandshe School (HIS).

            Para orang tua menanyakan berapa jumlah gurunya? Apakah standar sekolah tersebut sama dengan sekolah Negeri? Mengapa uang sekolahnya 6 gulden dan tidak 1 gulden 75 cent seperti di sekolah negeri? Pada bulan September 1917 jumlah murid telah menjadi 30 orang dan bulan Januari 1918 telah mencapai 64 orang. Mereka kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah, Sekolah Teknik atau Sekolah Guru. Mereka ini sebagian menerima Kristus sebagai Juruslamat da beribadah serta dibaptis di Gereja yang sekarang adalah GKJ Margoyudan. Namun kerena ingin beribadah dalam bahasa Melayu akhirnya mereka dengan izin Zending mendirikan Gereja yang akhirnya menjadi GKI Sangkrah pada 1933.

            Namun sebelum terbentuknya Gereja tersebut, beberapa orang Kristen Tionghoa bersama Zending Commissie telah mendirikan sekolah Kristen untuk orang Tionghoa dengan bahasa pengantar bukan bahasa Belanda tetapi bahasa Melayu yaitu Christelijke Maleisch-Chineesche School atau CMCS. Ini bertujuan agar pendidikan Kristen lebih mudah diterima oleh kalangan Tionghoa yang terbiasa berbahasa Melayu, yang kelak akan menjadi Bahasa Indonesia. Sekolah ini berdiri pada 2 Juli 1930, yang dijadikan hari lahirnya Sekolah Kristen Widya Wacana. CMCS didirikan di Warungmiri ditempat yang saat ini adalah rumah makan Centrum. Kelak dengan pemberian sebidang tanah dari Bapak Liem Tjing Kiat, akan menjadi Sekolah Kristen Widya Wacana kompleks Warungmiri sekarang ini. Jadi Sekolah Kriten Widya Wacana didirikan oleh anggota bakal GKI Sangkrah yang adalah GKI pertama di Solo. Setelah berdiri Gereja dengan nama Kie Tok Kauw Hwee, maka pengelolaan dilakukan oleh Majelis Gereja tersebut.